![]() |
| sumber:pexels |
Kebijakan publik merupakan salah satu instrumen penting dalam mengatur kehidupan bernegara. Pemerintah sebagai aktor utama memiliki kewenangan untuk menentukan arah, strategi, serta langkah-langkah yang berhubungan langsung dengan kepentingan masyarakat. Di balik lahirnya sebuah kebijakan, terdapat proses panjang yang melibatkan pemahaman teoretis maupun pendekatan praktis. Ilmu kebijakan publik sendiri berkembang seiring dengan pertumbuhan ilmu administrasi negara dan ilmu politik. Oleh karena itu, mempelajari kebijakan publik tidak bisa dilepaskan dari konteks paradigma yang melingkupinya serta model-model yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan.
Jika ditarik ke belakang, ilmu administrasi negara yang menjadi akar dari kajian kebijakan publik telah melalui beberapa fase perkembangan paradigma. Pada awal abad ke-20, berkembang paradigma dikotomi politik dan administrasi. Paradigma ini membedakan secara tegas antara penetapan kebijakan (wilayah politik) dengan pelaksanaan kebijakan (wilayah administrasi). Namun, seiring perjalanan waktu, pandangan ini mulai dianggap tidak realistis karena administrasi negara ternyata tidak bisa benar-benar bebas nilai.
Periode berikutnya, berkembang paradigma prinsip-prinsip administrasi, di mana fokus kajian lebih pada pencarian cara agar birokrasi bekerja secara efisien. Lalu, muncul paradigma administrasi sebagai ilmu politik, yang menekankan keterkaitan erat antara politik dengan administrasi dalam perumusan kebijakan. Hal ini membawa administrasi negara kembali ke induknya, yaitu ilmu politik. Setelah itu, berkembang paradigma administrasi sebagai ilmu administrasi, yang menempatkan fokus pada teori organisasi dan manajemen. Terakhir, administrasi negara memasuki paradigma good governance, yang menekankan pentingnya transparansi, partisipasi, akuntabilitas, dan orientasi pada kepentingan publik.
Perubahan-perubahan paradigma ini menunjukkan bahwa kebijakan publik bukanlah ilmu yang statis. Justru sebaliknya, ia terus berkembang mengikuti dinamika sosial, ekonomi, dan politik suatu negara.
Selain dilihat dari paradigma, kebijakan publik juga dapat dipahami dari sisi prosesnya. Nicholas Henry misalnya, menjelaskan bahwa kebijakan publik adalah sebuah rangkaian kegiatan yang dimulai dari perumusan masalah hingga evaluasi. Proses ini melibatkan banyak aktor dan berlangsung dalam situasi sosial yang dinamis.
Beberapa pakar memberikan model berbeda dalam menggambarkan tahapan kebijakan publik. Charles O. Jones mengajukan sebelas tahap mulai dari pendefinisian masalah hingga terminasi. Harold Laswell menyederhanakan menjadi tujuh tahap, yang dikenal dengan istilah policy cycle. Sementara itu, Garry Brewer membaginya ke dalam enam tahap. Perbedaan-perbedaan tersebut pada dasarnya menunjukkan bahwa pembuatan kebijakan publik bukanlah proses linier, melainkan interaktif dan kompleks.
Di Indonesia sendiri, contoh nyata dari proses kebijakan publik dapat dilihat pada kebijakan pengentasan kemiskinan pasca-krisis 1998. Pemerintah merumuskan program khusus seperti Inpres Desa Tertinggal, menyusun strategi, mengalokasikan sumber daya, hingga melaksanakan dan mengevaluasi program. Hal ini menunjukkan bahwa setiap kebijakan publik selalu berangkat dari masalah yang dirasakan masyarakat, lalu diterjemahkan ke dalam langkah-langkah strategis oleh pemerintah.
Untuk mempermudah pemahaman, kebijakan publik sering dipelajari melalui berbagai model. Salah satu yang paling dikenal adalah model rasional, yang menekankan pemilihan alternatif terbaik secara efisien berdasarkan data yang lengkap. Namun, dalam praktiknya, model ini sulit diterapkan karena keterbatasan informasi, waktu, dan sumber daya.
Sebagai kritik terhadap model rasional, muncul model incremental yang lebih realistis. Model ini menekankan pada perubahan bertahap dari kebijakan sebelumnya. Misalnya, dalam penyusunan APBN, pemerintah sering kali hanya menambahkan atau mengurangi alokasi anggaran dari tahun sebelumnya. Walaupun sederhana, model ini dianggap cocok untuk situasi rutin.
Selain itu, ada juga model mixed scanning yang merupakan gabungan dari rasional dan incremental, model garbage can yang menekankan sisi irasional dalam proses kebijakan, serta model institusional yang menekankan peran lembaga negara sebagai aktor utama. Ada pula model elit-massa, model kelompok, dan model sistem politik yang melihat kebijakan publik sebagai hasil interaksi antara kekuatan elit, kelompok kepentingan, maupun sistem politik secara keseluruhan.
Memahami paradigma dan model kebijakan publik penting bukan hanya bagi akademisi, tetapi juga praktisi. Di tengah perubahan sosial dan politik yang cepat, pembuat kebijakan dituntut untuk peka terhadap kebutuhan masyarakat sekaligus berhati-hati agar tidak terjebak pada kepentingan kelompok tertentu. Prinsip good governance menjadi relevan karena menekankan bahwa kebijakan publik seharusnya berpihak pada kepentingan rakyat, bukan pada birokrasi atau elit semata.
Di Indonesia, penerapan prinsip transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas menjadi kunci untuk memperbaiki kualitas kebijakan publik. Dengan memahami berbagai paradigma dan model, pembuat kebijakan memiliki kerangka yang lebih kaya dalam menganalisis persoalan serta merumuskan solusi yang tepat.
Perkembangan Paradigma Administrasi Negara:
|
Paradigma |
Periode |
Ciri Utama |
Kelemahan |
|
Dikotomi
Politik-Administrasi |
1900–1926 |
Politik menetapkan
tujuan, administrasi melaksanakan |
Tidak realistis,
administrasi tidak bisa bebas nilai |
|
Prinsip-Prinsip Administrasi |
1927–1937 |
Fokus
efisiensi, muncul prinsip POSDCORB |
Dianggap
terlalu mekanis |
|
Administrasi
sebagai Ilmu Politik |
1950–1970 |
Administrasi dan
politik sangat terkait |
Administrasi jadi
subordinat politik |
|
Administrasi sebagai Ilmu Administrasi |
1956–1970 |
Fokus teori
organisasi dan manajemen |
Mengabaikan
dimensi politik |
|
Administrasi
sebagai Administrasi Negara |
1970–sekarang |
Fokus organisasi
publik, lahir comparative public administration |
Belum murni identitas
ilmu sendiri |
|
Good Governance & Reinventing Government |
1980–sekarang |
Transparansi,
akuntabilitas, partisipasi, orientasi pada publik |
Tantangan
implementasi, risiko KKN |
|
Model |
Fokus/Pendekatan |
Contoh Aplikasi |
|
Rasional |
Pilihan terbaik,
berbasis data lengkap |
Peningkatan produksi
beras dengan analisis biaya-manfaat |
|
Incremental |
Perubahan
bertahap, kompromi politik |
Penyusunan
APBN tahun ke tahun |
|
Mixed Scanning |
Gabungan rasional dan
incremental |
Analisis menyeluruh +
kebijakan bertahap |
|
Garbage Can |
Keputusan
irasional, acak, penuh ketidakpastian |
Kebijakan
lahir karena tekanan situasi mendadak |
|
Institusional |
Fokus pada lembaga
pemerintah sebagai aktor utama |
Peran DPR/MPR dalam
kebijakan politik |
|
Elit-Massa |
Kebijakan
ditentukan elit, rakyat pasif |
Kebijakan era
monarki/otoritarian |
|
Kelompok |
Hasil interaksi antar
kelompok kepentingan |
Lobi asosiasi
pengusaha ke pemerintah |
|
Sistem Politik |
Kebijakan
sebagai output dari sistem politik |
Proses
legislasi di parlemen |

0 Komentar